INFO TERKINI :
MUSIK DAN INTERNET

Lihat dan Download Lirik lagu Gratis dan Terlengkap dari lagu Daerah, Nasional, dan Internasional


Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan

  

Website Nasty Berikut ini adalah Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan. Basan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendididikan (BSKAP), Kemendikdamsen telah menerbitkan Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan Tahun 2026.

Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan ini disusun sebagai rujukan praktis bagi guru, kepala satuan pendidikan, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam mengimplementasikan pendidikan kebencanaan secara sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Muatan dalam panduan ini tidak hanya menjelaskan aspek konseptual, tetapi juga strategi implementasi di intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta contoh-contoh praktik baik yang dapat diterapkan di berbagai konteks daerah.

 

Penanggulangan Bencana

Indonesia menempati peringkat kedua negara paling rawan bencana di dunia menurut World Risk Report 2024. Tren intensitas kejadian bencana pun tiap tahunnya cenderung meningkat. Berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), jumlah korban jiwa pada Januari hingga September 2025, tercatat 355 korban meninggal.

Selain itu, korban luka, kerusakan lingkungan, infrastruktur, kerugian material hingga mempengaruhi kegiatan belajar mengajar, terhitung lebih dari 2000 satuan pendidikan mengalami kerusakan akibat kejadian bencana hanya pada tahun 2024 saja.

Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan
Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan

Berdasarkan data dari BNPB (2023), lebih dari 50% jumlah satuan pendidikan yang ada di Indonesia terpapar lebih dari satu ancaman bencana.

Terdapat 78% satuan pendidikan yang berada di wilayah risiko gempa bumi, 38% satuan pendidikan lainnya berada di wilayah berisiko banjir, dan sebagian lagi satuan pendidikan berada diwilayah yang berisiko ancaman bencana lainnya. Merujuk pada data tersebut, ada lebih dari 500 satuan pendidikan dengan 60 juta murid yang terpapar ancaman bencana.

Realitas di atas perlu disikapi secara serius dan komprehensif di setiap sektor, termasuk pada sektor pendidikan. Panduan implementasi pendidikan kebencanaan untuk satuan pendidikan menjadi salah satu upaya preventif yang mutlak perlu dilakukan untuk mensosialisasikan mitigasi bencana kepada murid agar lebih siap siaga pada ancaman bencana.

 

Melalui pendekatan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan diharapkan edukasi mitigasi bencana ini dapat mewujudkan budaya sadar bencana pada murid sejak dini. Sehingga terbentuk generasi penerus bangsa yang tangguh terhadap bencana.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Penanganan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Definisi ini selaras dengan pengertian “bencana” yang dipahami secara universal, dimana bencana setidaknya terdiri dari tiga hal, yaitu: 1) gangguan yang serius terhadap berfungsinya masyarakat; 2) kerugian besar pada manusia (terbunuh atau luka- luka), harta benda, dan lingkungannya; dan 3) masyarakat yang mengalaminya tak mampu menanggulangi gangguan tersebut apabila hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di zona geologi aktif, dan secara konsisten menghadapi ancaman bencana alam yang beragam dan kompleks. Dengan posisinya yang berada di Cincin Api Pasifik, Indonesia rentan terhadap berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem lainnya.

Fenomena perubahan iklim, degradasi lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, perkembangan infrastruktur dan ekonomi, serta meningkatnya kepadatan penduduk juga mempengaruhi kejadian bencana di Indonesia.

Selain ancaman alam, terdapat pula jenis bencana non alam misalnya kebakaran bangunan, kebakaran hutan dan lahan, tanggul dam atau situ jebol, kegagalan teknologi, serta wabah penyakit menular yang juga melanda wilayah negara kita.

Berbagai kejadian bencana ini sering menimbulkan kerugian harta dan jiwa yang tidak sedikit. Beberapa Jenis Bencana yang ada di Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut,

 

1. Gempa Bumi

Gempa bumi merupakan bencana alam yang relatif sering terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh posisi indonesia yang tepat di pertemuan lempeng-lempeng dunia. Interaksi lempeng tersebut menyebabkan gempa di wilayah tersebut.

Kondisi ini membentuk jalur gempa dengan ribuan titik pusat gempa dan ratusan gunung berapi yang rawan bencana di Indonesia. Interaksi lempeng tektonik banyak terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera yang merupakan pertemuan lempeng Benua Asia dan Samudera Hindia; wilayah selatan Pulau Jawa dan pulau pulau di Nusa Tenggara yang merupakan pertemuan lempeng Benua Australia dan Asia; serta di kawasan Sulawesi dan Maluku yang merupakan efek dari pertemuan lempeng Benua Asia dengan Samudera Pasifik.

2. Tsunami

Gempa bumi yang terjadi di laut dapat mengakibatkan terjadinya tsunami (gelombang laut), terutama pada gempa yang terjadi di laut dalam yang diikuti deformasi bawah laut seperti yang pernah terjadi di pantai barat Sumatera dan di pantai utara Papua. Sementara itu letusan gunung berapi juga dapat menimbulkan gelombang pasang seperti yang terjadi pada letusan Gunung Krakatau.

3. Banjir

Banjir merupakan ancaman bencana yang juga terjadi di Indonesia. Banjir ini terjadi baik di kota besar maupun di wilayah pegunungan, selain itu juga banjir karena naiknya air laut (Banjir Rob). Bencana banjir disebabkan oleh relief bentang alam Indonesia yang sangat bervariasi dan banyaknya sungai yang mengalir di antaranya.

Banjir pada umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian Barat yang menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Banjir di kota besar sering disebabkan oleh populasi penduduk yang semakin padat yang dengan sendirinya membutuhkan ruang yang memadai untuk kegiatan penunjang hidup yang semakin meningkat.

Banjir di kota besar sering disebabkan oleh buruknya sistem drainase, kurangnya kesesuaian peruntukan lahan, dan banyaknya sampah yang menghalangi saluran air.

Banjir di wilayah pegunungan sering disebabkan oleh perubahan permukaan hutan menjadi gundul menyebabkan peningkatan kecepatan aliran air permukaan yang tinggi dan tidak terkendali sehingga terjadi kerusakan lingkungan di daerah satuan wilayah sungai.

4. Tanah Longsor

Bencana tanah longsor di Indonesia banyak terjadi di daerah yang memiliki derajat kemiringan lereng tinggi. Bencana ini umumnya terjadi pada saat curah hujan tinggi. Longsor juga dapat terjadi di terowongan atau di lahan penggalian/penambangan.

Tanah longsor juga terjadi setiap tahun terutama di daerah-daerah yang tanahnya tidak stabil seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hampir sebagian besar tanah di daerah tropis bersifat mudah longsor karena tingkat pelapukan batuan di daerah ini sangat tinggi dan komposisi tanah secara fisik didominasi oleh material lepas dan berlapis serta potensial longsor.

Kestabilan tanah ini sangat dipengaruhi oleh kerusakan hutan penyangga yang ada di Indonesia. Karena banyaknya penebangan di hutan penyangga, wilayah rawan bencana longsor di Indonesia semakin bertambah.

5 Kekeringan

Bahaya kekeringan dialami berbagai wilayah di Indonesia hampir setiap musim kemarau. Hal ini erat terkait dengan menurunnya fungsi lahan dalam menyimpan air.

Penurunan fungsi tersebut ditengarai akibat rusaknya ekosistem akibat pemanfaatan lahan yang berlebihan. Dampak dari kekeringan ini adalah gagal panen, kekurangan bahan makanan hingga dampak yang terburuk adalah banyaknya gejala kurang gizi bahkan kematian.

6. Epidemi dan Wabah

Penyakit Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Epidemi baik yang mengancam manusia maupun hewan ternak berdampak serius berupa kematian serta terganggunya roda perekonomian.

Beberapa indikasi/gejala awal kemungkinan terjadinya epidemi seperti avian influenza/flu burung, anthrax serta beberapa penyakit hewan ternak lainnya yang telah membunuh ratusan ribu ternak yang mengakibatkan kerugian besar bagi petani.

7. Kebakaran Gedung dan Pemukiman

Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat marak pada musim kemarau. Hal ini terkait dengan kecerobohan manusia diantaranya pembangunan gedung/rumah yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan serta perilaku manusia. Hubungan arus pendek listrik, meledaknya kompor serta kobaran api akibat lilin/lentera untuk penerangan merupakan sebab umum kejadian kebakaran permukiman/gedung.

8. Kebakaran Hutan dan Lahan

Potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia cukup besar. Hampir setiap musim kemarau Indonesia menghadapi bahaya kebakaran lahan dan hutan dimana berdampak sangat luas tidak hanya kehilangan keanekaragaman hayati tetapi juga timbulnya gangguan asap di wilayah sekitar yang sering kali mengganggu negara-negara tetangga.

Kebakaran hutan dan lahan dari tahun ke tahun selalu terjadi. Hal tersebut memang berkaitan dengan banyak hal. Dari ladang berpindah sampai penggunaan HPH yang kurang bertanggungjawab, yaitu penggarapan lahan dengan cara pembakaran.

Hal lain yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan adalah kondisi tanah di daerah banyak yang mengandung gambut. Tanah semacam ini pada waktu dan kondisi tertentu kadang- kadang terbakar dengan sendirinya.

9. Kegagalan Teknologi

Kegagalan teknologi merupakan kejadian yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam menggunakan teknologi dan atau industri.

Dampak yang ditimbulkan dapat berupa kebakaran, pencemaran bahan kimia, bahan radioaktif/nuklir, kecelakaan industri, kecelakaan transportasi yang menyebabkan kerugian jiwa dan harta benda.

10. Kerusuhan Sosial

Kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku, ras, golongan, bahasa, agama dan etnis merupakan salah satu aset nasional yang bernilai tinggi sekaligus merupakan kondisi yang sangat rawan.

Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu untuk memulai terjadinya konflik. Kerawanan terhadap konflik dalam masyarakat Indonesia diperburuk dengan tingginya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat serta rendahnya kualitas pendidikan masyarakat.

 

Penyebab Bencana

Secara garis besar, penyebab bencana dapat dikategorikan kedalam 3 (tiga) faktor, sebagai berikut.

1. Faktor Geologi

Faktor geologi merupakan berbagai kejadian atau proses yang terjadi di dalam kerak bumi. Misalnya adanya pergeseran lempeng tektonik di dalam kerak bumi. Pergeseran ini dapat menyebabkan pelepasan energi besar yang menyebabkan getaran dan pergerakan tanah. Salah satu ancaman bahaya yang ditimbulkan yakni gempa bumi.

2. Faktor Meteorologi dan Perubahan Iklim

Faktor meteorologi turut mempengaruhi bencana alam yang terjadi, salah satunya badai tropis (topan, taifun, siklon), banjir, tornado, gelombang panas, badai salju, dan badai es. Faktor meteorologi tersebut juga tidak terlepas dari adanya fenomena perubahan iklim saat ini.

Perubahan iklim terkait erat dengan intensitas bencana yang kian meningkat. Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global turut meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan badai. Sekitar 90% bencana yang terjadi di Indonesia, intensitas kejadian bencananya merupakan bencana hidrometeorologi.

3. Faktor Lingkungan Manusia

Selain faktor alami, ada juga faktor buatan yang bisa menyebabkan terjadinya bencana alam. Faktor buatan ini biasanya adalah akibat dari adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh manusia.

Contohnya, penggundulan hutan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko tanah longsor dan banjir. Pembangunan kota yang tidak terencana juga dapat menyebabkan kerugian ekologis dan meningkatkan kerentanan terhadap bencana.

Bencana di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerugian fisik atau kerusakan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan dampak sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan,


BACA JUGA : Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Seleksi Guru PPPK SMA Unggul Garuda Baru Tahun 2026


UNDUH Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan

 

Demikianlah postingan ini, jika menurut Anda Bermanfaat silahkan SHARE, Terimakasih

@Salam Website Nasty 

 

 

telegram

0 Response to "Panduan Implementasi Pendidikan Kebencanaan untuk Satuan Pendidikan"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar dengan Jelas dan Sopan