Tradisi Meugang Masyarakat Aceh, Berikut Sejarah dan Maknanya
Website Nasty Masyarakat Aceh biasa menyambut datangnya bulan Ramadan dengan memasak daging dalam jumlah besar dan menyantapnya bersama-sama. Tradisi tersebut bernama Meugang.
Tradisi Meugang yang identik dengan acara makan bersama menjelang bulan Ramadan, menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Aceh. Ada banyak ragam masakan yang diolah menggunakan bahan daging pada susasana Meugang untuk dinikmati bersama-sama anggota keluarga.
Setiap tahun, Meugang menjadi momen penting bagi setiap keluarga di Aceh. Tradisi ini merupakan bagian dari kesiapan menyambut bulan suci Ramadan, dimana seluruh anggota keluarga akan berbondong-bondong memasak dan menikmati daging bersama.
Tidak ada yang boleh melewatkan tradisi ini, karena Meugang memiliki nilai religius yang tinggi bagi masyarakat Aceh. Antusiasme masyarakat sesuai dengan ajaran Islam, dimana umat Muslim diminta menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan penuh suka cita.

Sejarah Meugang
Meskipun sulit untuk menentukan kapan tradisi ini pertama kali muncul, namun sejarah Meugang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu di Aceh.
Meugang diyakini dimulai sejak masa Kerajaan Aceh. Kala itu (1607-1636 M). Ketika itu, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya.
Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur atas kemakmuran rakyatnya dan rasa terima kasih kepada rakyatnya. Setelah Kerajaan Aceh ditaklukan oleh Belanda pada tahun 1873, tradisi ini tidak lagi dilaksanakan oleh raja.
Akan tetapi, karena hal ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka Meugang tetap dilaksanakan hingga saat ini dalam kondisi apapun. Tradisi Meugang juga dimanfaatkan oleh pahalawan Aceh dalam bergerilya, yakni daging sapi dan kambing diawetkan untuk perbekalan.
Di awal kemunculannya, Meugang lebih identik dengan berdoa untuk almarhum dan almarhumah. Pada masa lalu, tradisi Meugang itu identik dengan berdoa kepada orang yang sudah meninggal. Seiring berjalannya waktu, kenduri dan makan bersama mulai menjadi bagian yang lebih dominan dalam pelaksanaan Meugang
Pelaksanaan Meugang
Tradisi Ramadan di Aceh tersebut diawali dengan pemotongan sapi dan kambing, sebagian masyarakat juga ada yang membeli daging untuk mengolah dalam memenuhi tradisi ini. Tidak hanya pada saat menjelang Ramadan, Megang juga dilaksanakan ketika perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Sapi dan kambing yang disembelih berjumlah ratusan. Selain kambing dan sapi, masyarakat Aceh juga menyembelih ayam dan bebek.
Pada hari pelaksanaan Meugang, masyarakat yang mampu biasanya akan menyumbangkan sapi untuk disembelih, baik secara pribadi ataupun bergotong-royong. Daging tadi akan dibagikan ke masyarakat, terutama warga tidak mampu dan tetangga sekitar.
Daging yang sudah didapatkan masyarakat nantinya akan diolah di rumah, untuk dimakan bersama keluarga atau dibawa ke Masjid dan dimakan bersama-sama tetangga dan warga lainnya.
Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan puasa Ramadan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum Ramadhan atau hari raya.
Setiap pelaksanaan Meugang di Aceh juga ditandai dengan kemunculan pasar daging dadakan di pinggir jalan. Para pedagang daging berdiri berjejer di sepanjang jalan, menawarkan daging segar kepada pembeli.
Harga daging mungkin sedikit lebih tinggi dari hari-hari biasa, tetapi hal ini tidak mengurangi semangat masyarakat Aceh untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan kebersamaan.
Makna Meugang
Makna dari tradisi Meugang ini mengandung nilai religius dengan bersedekah atau saling berbagi dengan sesama. Tradisi ini juga memupuk nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dan tradisi ini juga sebagai bentuk solidaritas.
Seluruh proses mulai dari pembagian daging, memasak daging bersama-sama, dan makan daging bersama-sama inilah yang menjadi salah satu nilai inti Meugang. Seluruh kerabat dan tetangga sekitar akan saling berinteraksi dan bersilaturahmi, sehingga mengeratkan nilai kekeluargaan di antara mereka.
Berikut ini adalah makna dan filosofi Meugang selengkapnya.
1. Religius: Merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadan sekaligus bentuk sedekah kepada yatim piatu dan fakir miskin.
2. Sosial: Momen penting untuk mempererat silaturahmi, di mana keluarga yang jauh akan pulang (riwang) untuk makan bersama.
3. Historis: Warisan budaya Kesultanan Aceh Darussalam, dimana Sultan membagikan daging kepada rakyat sebagai wujud perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.
3. Solidaritas: Menanamkan nilai berbagi dan kebersamaan, memastikan seluruh masyarakat, termasuk yang kurang mampu, dapat menikmati hidangan daging.
Demikian sejarah dan makna tradisi Meugang masyarakat Aceh. Meugang tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperkokoh kebersamaan dan silaturahmi antarwarga.***
BACA JUGA : Padusan, Tradisi Masyarakat Jawa Mensucikan Diri Menyambut Ramadan
@Salam Website Nasty


0 Response to "Tradisi Meugang Masyarakat Aceh, Berikut Sejarah dan Maknanya"
Post a Comment
Silahkan Berkomentar dengan Jelas dan Sopan